Sesuai rencana sebelumnya, kami akan mudik pada h-2, karena menurut perkiraaan kami tidak akan menemui kemacetan di pelabuhan penyeberangan gilimanuk.
Apalagi menurut beberapa media, puncak arus mudik akan terjadi pada h-4 dan h-3.
Tapi ternyata perkiraan itu meleset, kami tidak bisa menghindar dari antrian panjang menuju gerbang pelabuhan.
Bukan kesal dan sebal yang ada di hati kami, tapi sebaliknya kami menikmati keadaan ini, apalagi kedua anak kami, seakan mereka melupakan capek dan penat dalam perjalanan kami yang panjang.
Sebenarnya sederhana saja, kami bercapek-capek adalah untuk bertemu orang tua, saudara dan kerabat.
Yang terbayang di benak kami adalah kebahagiaan, keceriaan dan suasana gembira.
Begitulah tradisi tahunan ini kami lakukan, mungkin untuk sebagian orang merasa unik, atau bahkan aneh. Karena perbedaan tradisi yang ada.
Pernah suatu kali saya bertemu dengan 2 orang turis eropa, tepatnya dia bertanya "what happen, it is exodus, isn't it? " artinya kurang lebih : "apa yang terjadi, ini exodus (bepergian besar2an) kan? " , mereka mengira kami mengungsi karena ada bencana.
Setelah mendapat penjelasan, akhirnya mereka mengerti dan mengatakan, negeri ini banyak memiliki tradisi yang unik.
Gambar terlampir memakai kamera HP OPPO tipe A83
Lokasi pelabuhan Gilimanuk - Bali
Lokasi pelabuhan Gilimanuk - Bali

0 Response to "Penyeberangan Gilimanuk Macet di H-2"
Posting Komentar