Tapi dalam kondisi tertentu, kita juga harus ingat bagaimana caranya agar kekayaan itu dapat membantu kita menjadi orang yang lebih berguna bagi sesama dan juga menjadikan kita orang yang berbahagia terutama di akhirat kelak.
Ini adalah sepenggal kisah dari orang yang kaya raya dengan banyak harta, tapi dia merasa sangat miskin yang disebabkan oleh perbuatan dan kekayaanya, berikut kisahnya:
Seorang laki-laki keturunan Arab yang tinggal di Montreal Kanada, menceritakan tentang kisah pilu ayahnya yang sangat kaya raya. Pengusaha kelas dunia yang memiliki banyak usaha, bangunan dan properti.
Ketika sang ayah mencapai usia tua, dia menderita sakit yang berkepanjangan dan sedang menghitung hari-hari terakhirnya.
Beberapa hari sebelum kematiannya, pria tua itu terus mengatakan "Ana faqir.. ana faqir" yang berarti, "Saya miskin, saya miskin".
Ketika anak-anaknya yang berkunjung mendengar dan melihat hal ini, berinisiatif untuk membawanya berkeliling dan menunjukkan kepada sang ayah semua perusahaan dan properti miliknya untuk meyakinkannya bahwa sang ayah sama sekali tidak miskin.
Tapi orang tua itu terus berkata, "Saya miskin, saya miskin." Anak-anaknya menjadi bingung. Kembali mereka mencari inisiatif lain, dan diputuskan untuk mengajak seorang Cendekiawan Muslim setempat untuk menemui ayah mereka.
Setelah menghabiskan beberapa waktu dengan orang tua itu, sang cendekiawan akhirnya mengerti bahwa orang tersebut mengatakan bahwa dia miskin tidak berkenaan dengan kekayaannya namun mengenai kebaikannya yang sedikit.
Ini karena sebagian besar hidupnya dihabiskan hanya untuk mendapatkan kekayaan dari sejak muda sampai usia senja, waktunya habis hanya untuk berusaha menjadi kaya dengan harta dunia dan dan sekarang setelah berada di ranjang kematiannya, dia menyadari bahwa dia seharusnya memberi lebih banyak waktu kepada Allah. Dan saat orang itu menghadapi pedihnya sakaratul maut, dia masih mengatakan "Ana faqir..ana faqir".
Renungan :
Begitu banyak waktu telah berlalu dari hidup kita, mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Entah itu melakukan hal-hal yang sia-sia, nongkrong tanpa tujuan yang jelas, atau jalan-jalan yang tidak menambah sesuatu yang berpahala.
Mulai sekarang, kita seharusnya tidak menyia-nyiakan satu menit pun tanpa mengingat Allah, karena setiap ingatan akan Allah akan meningkatkan posisi kita di akhirat nantinya.
Jadi, mengapa kita hanya berusaha untuk menjadi kaya dalam kehidupan sementara? mengapa kita lupa untuk berusaha menjadi kaya di kehidupan yang abadi kelak?, harusnya kita berusaha untuk keduanya.
Apakah gunanya kaya raya tapi tangan kosong dan hampa menjelang kematian.

0 Response to "Orang Kaya Bertangan Hampa"
Posting Komentar